Kamis, 19 Desember 2013

Kontroversi Natal: Kebohongan Sinterklas menurut Dr. Nathan Grills



On Jumat, 23 Desember 2011 / Reply

Kontroversi Natal: Kebohongan Sinterklas, Sosok Pemalas

MELBOURNE (voa-islam.com) – Natal alias Christmas yang dirayakan umat Kristen seluruh dunia, hampir tak bisa dipisahkan dari sosok Sinterklas (Santa Claus). Tokoh ini selalu dinanti oleh anak-anak setiap perayaan Natal di akhir tahun. Namun, di balik penampilannya yang tambun, bermuka merah dan riang gembira, sosok khas Sinterklas itu justru bisa memberi pendidikan buruk bagi anak-anak.
Demikian menurut hasil penelitian seorang akademisi Australia, Dr. Nathan Grills dari Universitas Melbourne. Diterbitkan dalam British Medical Journal, Gills menyatakan bahwa karakter unik Sinterklas kini bisa dipandang sebagai tokoh yang mempromosikan gaya hidup yang tidak sehat.
...Sinterklas dianggap tokoh yang terlalu banyak makan, minum, dan kurang berolahraga. Sifat-sifat malas ini tidak bagus untuk anak-anak...
Menurut Grills, dengan tubuhnya yang selalu digambarkan tambun, Sinterklas dianggap tokoh yang terlalu banyak makan, minum, dan kurang berolahraga. Sifat-sifat malas ini tidak bagus untuk anak-anak, yang selalu senang dengan Sinterklas karena selalu memberi hadiah natal - walau itu berasal dari orang tua mereka.
Seperti dikutip laman stasiun televisi ABC News, dengan penampilan saat ini, Grills meyakini bahwa Sinterklas kemungkinan telah menjadi figur yang paling populer dan kini sering dimanfaatkan menjadi alat pemasaran berbagai produk, termasuk makanan cepat saji hingga minuman keras.

Senin, 16 Desember 2013

Apa Dosa Asal Itu?

Apa Dosa Asal Itu?

PERTANYAAN ini sangat penting bagi kita. Mengapa? Karena ketidaktaatan Adam dan Hawa kepada Allah mempengaruhi seluruh generasi keturunannya sampai ke zaman kita. Alkitab menyatakan, ”Dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang dan kematian, melalui dosa, demikianlah kematian menyebar kepada semua orang karena mereka semua telah berbuat dosa.” (Roma 5:12) Tetapi, bagaimana tindakan sederhana mengambil dan memakan buah dari sebuah pohon bisa mengakibatkan konsekuensi yang sedemikian tragis?

Sewaktu menciptakan Adam dan Hawa, Allah menempatkan mereka di sebuah taman nan indah yang dipenuhi tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan dan pohon-pohon yang menghasilkan buah. Hanya satu pohon yang dilarang—”pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”. Sebagai insan bermoral yang bebas memilih, Adam dan Hawa dapat menentukan apakah mereka akan menaati Allah atau tidak. Akan tetapi, Adam diperingatkan, ”Pada hari engkau memakan [pohon pengetahuan], engkau pasti akan mati.”—Kejadian 1:29; 2:17.

Pembatasan yang Masuk Akal

Satu-satunya pembatasan ini tidak menyulitkan; Adam dan Hawa dapat makan dari semua pohon lain dalam taman itu. (Kejadian 2:16) Lagi pula, larangan itu tidak menyiratkan adanya kecenderungan yang salah pada pasangan tersebut, juga tidak merampas martabat mereka. Andaikata Allah melarangkan perkara-perkara keji seperti bestialitas atau pembunuhan, bisa saja ada yang berpendapat bahwa manusia yang sempurna punya kecenderungan fasik tertentu yang perlu dicegah. Akan tetapi, makan adalah hal yang wajar dan patut.

Apakah buah terlarang itu adalah hubungan seksual, seperti anggapan beberapa orang? Pandangan ini tidak didukung oleh Alkitab. Pertama, sewaktu Allah membuat larangan ini, Adam masih seorang diri dan tampaknya tetap begitu selama beberapa waktu. (Kejadian 2:23) Kedua, Allah menyuruh Adam dan Hawa untuk ’beranak-cucu dan bertambah banyak dan memenuhi bumi’. (Kejadian 1:28) Tentu saja, Ia tidak akan memerintahkan mereka untuk melanggar hukum-Nya lantas menghukum mati mereka karena melakukan hal itu! (1 Yohanes 4:8) Ketiga, buah itu mula-mula dimakan sendirian oleh Hawa, baru kemudian diberikan kepada Adam, suaminya. (Kejadian 3:6) Jelaslah, buah tersebut bukan hubungan seksual.

Air Bah—Fakta atau Dongeng?

Air Bah—Fakta atau Dongeng?
’Dan semua binatang tersebut datang berpasangan mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu.’—Kejadian 7:8, 9.

SIAPA yang belum pernah mendengar tentang Air Bah pada zaman Nuh? Mungkin Anda telah mengetahui cerita itu sejak kecil. Sebenarnya, apabila Anda mengunjungi perpustakaan setempat untuk menyelidiki tentang Air Bah, Anda mungkin mendapati ada lebih banyak buku mengenainya yang ditujukan bagi anak-anak daripada bagi orang dewasa. Jadi, Anda mungkin berkesimpulan bahwa kisah Air Bah hanyalah dongeng pengantar tidur. Banyak orang merasa bahwa kisah Air Bah Zaman Nuh, dan kisah-kisah Alkitab lainnya, tidak lebih daripada dongeng atau, paling-paling, pelajaran moral yang dikarang manusia.

Sungguh mengejutkan, bahkan beberapa orang yang mengaku menaruh kepercayaan agama mereka atas Alkitab meragukan bahwa Air Bah benar-benar pernah terjadi. Imam Katolik Edward J. McLean pernah menyatakan bahwa cerita tentang Nuh ditulis untuk ditafsirkan, bukan sebagai sejarah, melainkan sebagai ”bentuk alegori atau kesusastraan”.

Akan tetapi, apakah narasi mengenai Air Bah dalam Alkitab hanyalah sebuah alegori (perlambang), bukan untuk diartikan secara harfiah? Apakah Alkitab sendiri mengizinkan pandangan demikian?

Ada Apa di Balik Ilmu Sihir?

Ada Apa di Balik Ilmu Sihir?

”TUKANG SIHIR”. Bila mendengar kata ini, apa yang Anda bayangkan? Nenek sihir yang mengucapkan mantra-mantra yang mencelakakan atau wanita amoral yang bergaul dengan Setan? Bertentangan dengan konsep itu, banyak orang yang mengaku sebagai tukang sihir modern penampilannya seperti orang kebanyakan. Beberapa di antaranya termasuk kalangan profesional yang disegani, seperti pengacara, guru, penulis, dan perawat. Di seluas dunia, gerakan keagamaan yang tampaknya menyerupai praktek ilmu gaib sedang bangkit kembali, seperti halnya animisme dan neopaganisme. ”Di Rusia, ke mana pun Anda pergi sekarang, ilmu sihir sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” kata seorang perwira polisi di negara itu. Di Amerika Serikat, ada sekitar 50.000 sampai 300.000 tukang sihir, atau ”Wiccan”, sebagaimana beberapa menyebut diri mereka.

Dewasa ini, kata ”tukang sihir” sering kali digunakan secara bebas dan maknanya pun berbeda-beda. Agaknya, perkembangan ilmu sihir zaman modern terutama berhubungan dengan aliran penyembahan dewi-dewi, yaitu animisme, yang sangat mempercayai kekuatan supernatural. Beberapa tukang sihir bekerja sendirian—mereka mempraktekkan ritual mereka sendirian, mengamati perubahan musim, fase pergerakan bulan, dan fenomena alam lainnya. Ada pula yang beribadat dan mengucapkan mantra-mantra mereka dalam coven, yaitu suatu kelompok yang biasanya terdiri dari 13 tukang sihir.

Memang, di negeri-negeri Barat dewasa ini persepsi publik terhadap tukang sihir sangat berbeda dengan pandangan orang-orang yang mendukung pembakaran tukang sihir pada Abad Pertengahan. Akan tetapi, secara sporadis masih terjadi tindak kekerasan yang sewenang-wenang terhadap para tukang sihir. Sebagai contoh, pada awal bulan Oktober 1998, di Indonesia, gerombolan-gerombolan yang bersenjatakan parang main hakim sendiri dengan membunuh lebih dari 150 orang yang dicurigai sebagai tukang sihir (dukun santet). Di Afrika Selatan antara tahun 1990 dan 1998, dilaporkan ada lebih dari 2.000 kasus kekerasan terhadap tukang sihir, termasuk 577 pembunuhan. Karena hidup di tengah sikap-sikap ekstrem semacam itu—entah yang menyukai ilmu sihir ataupun yang membenci para tukang sihir—bagaimana seharusnya orang-orang Kristen memandang hal ini?

Kamis, 12 Desember 2013

Di Amerika, Dilarang Mengucapkan Selamat Hari Natal

 
HL | 25 December 2012 | 13:32 Dibaca: 5103   Komentar: 0   26
13564310781348658873
Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)
Kalau Anda berada di Amerika (dan juga disebagian besar negara Barat yang lain), Anda mungkin akan mendapati bahwa ucapan selamat Natal (Merry Christmas) tidak akan dijumpai di kantor-kantor pemerintahan dan pernyataan resmi pemerintah. Lho bukannya Amerika adalah negara Kristen? Mengapa mengucapkan selamat Natal koq tidak boleh dilakukan oleh pejabat/pemimpin dimanapun, termasuk di sekolah? Inilah konsekuensi dari sekularisme, sebuah aliran yang membedakan dengan tegas antara urusan dunia dan akherat…antara urusan negara (state) dan agama (church).

Rabu, 11 Desember 2013

Natal---Apakah benar2 bersifat Kristen ???


Natal—Apakah Benar-Benar Bersifat Kristen?

MENURUT The World Book Encyclopedia, ”Natal adalah hari saat orang-orang Kristen merayakan hari lahir Yesus Kristus.” Namun, ensiklopedia itu juga menyatakan, ”Orang-orang Kristen masa awal tidak merayakan kelahiran [Yesus] karena mereka menganggap perayaan kelahiran seseorang sebagai kebiasaan kafir.”

Hari Santo Nicholas-- dari mana asalnya ?



”Hari
Santo Nicholas”—Dari Mana Asalnya?

JIKA saudara melewati jalan-jalan di Belgia pada awal bulan Desember, saudara akan melihat pemandangan yang sangat menarik: kelompok-kelompok anak-anak pergi dari rumah ke rumah, menyanyikan syair-syair pendek yang disebut ”lagu-lagu Santo Nikolas”. Para penghuni rumah menyambut anak-anak yang manis itu dengan menghadiahi mereka buah-buahan, permen, atau uang.

Natal --- Apa fokusnya ??



Natal—Apa
Fokusnya?

BAGI jutaan orang, Natal dan Tahun Baru adalah waktu bersama keluarga dan teman-teman, waktu untuk menguatkan kembali ikatan kasih. Banyak yang menganggapnya sebagai saat untuk mengenang kembali kelahiran Yesus Kristus dan peranannya sebagai Juru Selamat manusia. Di Rusia, berbeda dengan banyak negeri lainnya, orang tidak selalu boleh merayakan Natal. Meski selama berabad-abad para anggota Gereja Ortodoks Rusia bebas merayakan Natal, mereka dilarang melakukannya selama hampir sepanjang abad ke-20. Apa penyebabnya?

Brad Pitt: Sinterkas Adalah Sebuah Kebohongan!

 
koleksi foto selebriti
Sinterklas selalu dianggap sebagai idola bagi sebagian orang. Terutama saat hari Natal tiba. Bayangkan saja bagaimana baiknya seseorang kakek tua berjanggut putih yang mungkin sudah cukup repot dengan rematiknya namun sempat menebarkan kebaikan dan membagikan hadiah kepada anak-anak kecil.

Paus : Natal Bukan 25 Desember

PDF Print E-mail
Tuesday, 18 December 2012 17:57
Hj Irena Handono, Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center
Kontroversi NATAL memang tidak pernah surut dibahas tiap tahun apalagi menjelang peringatannya 25 Desember. Berbagai tulisan mengupas tentang asal-asul peringatan ini berulang-ulang dimuat kembali untuk membentengi umat Islam agar tidak terseret dalam peringatan ini. Tapi bukannya peringatan ini menjadi surut, tapi tiap tahun peringatan ini justru makin meriah walau coreng dibalik peringatan ‘suci’ kelahiran tuhan ini terkuak.
Buku Paus mengupas kebohongan Natal
Kejadian yang cukup menghebohkan dunia Kristen baru saja terjadi adalah pengungkapan jujur dari tokoh besar Kristen yakni Paus Benedictus XVI. Ia menulis sebuah buku, ‘Jesus of Nazareth: The Infancy Narrative’ yang diluncurkan Rabu (21/11/2012). Ia membongkar beberapa fakta yang mengejutkan seputar kelahiran Yesus Kristus. Antara lain menurutnya,

Minggu, 24 November 2013

Asal usul Natal zaman modern.

Asal Usul Natal Zaman Modern

BAGI jutaan orang di seluruh dunia, Natal adalah saat yang penuh sukacita dalam setahun. Inilah wa  modern.ktunya untuk makan-makan, menjalankan tradisi turun-temurun, dan menikmati kebersamaan dalam keluarga. Hari Natal adalah juga kesempatan bagi sahabat dan sanak saudara untuk bertukar kartu dan hadiah.

Akan tetapi, 150 tahun yang lalu, Natal sebenarnya merupakan hari raya yang sangat berbeda. Dalam bukunya, The Battle for Christmas, profesor sejarah Stephen Nissenbaum menulis, ”Natal . . . adalah saat untuk bermabuk-mabukan karena aturan-aturan yang menuntun perilaku manusia dalam masyarakat untuk sementara diabaikan demi ’karnaval’, semacam Mardi Gras di bulan Desember.”

Bagi orang yang sangat menghormati Natal, gambaran ini mungkin mengganggu perasaannya. Mengapa orang-orang sampai hati menodai hari raya yang bertujuan memperingati kelahiran Putra Allah? Jawabannya mungkin mengejutkan saudara.

Dasar yang Keliru

Sejak kemunculannya pada abad keempat, Natal telah diliputi oleh berbagai kontroversi. Misalnya, timbul pertanyaan tentang hari kelahiran Yesus. Karena Alkitab tidak memerinci hari maupun bulan kelahiran Yesus, berbagai tanggal telah diajukan. Pada abad ketiga, sekelompok teolog Mesir menetapkan tanggal 20 Mei sebagai hari kelahiran Yesus, sedangkan para teolog lainnya lebih menyukai tanggal-tanggal yang lebih awal, seperti tanggal 28 Maret, 2 April, atau 19 April. Menjelang abad ke-18, kelahiran Yesus dikaitkan dengan setiap bulan dalam setahun! Kalau begitu, bagaimana tanggal 25 Desember yang akhirnya terpilih?

Hari-Hari Raya


 

Definisi: Hari-hari yang biasanya ditandai dengan libur dari pekerjaan sekuler dan sekolah guna merayakan suatu peristiwa. Hari-hari tersebut bisa juga berupa kesempatan untuk pesta-pesta keluarga atau masyarakat. Orang-orang yang ambil bagian di dalamnya dapat menganggapnya bersifat agama atau sebagian besar bersifat ramah-tamah atau duniawi.

Apakah Hari Natal perayaan yang didasarkan atas Alkitab?

Tanggal Perayaan

Cyclopœdia karya M’Clintock dan Strong mengatakan, ”Perayaan Hari Natal bukan suatu ketetapan ilahi, juga tidak berasal dari P[erjanjian] B[aru]. Hari kelahiran Kristus tidak dapat dipastikan dari P[erjanjian] B[aru], atau, malah, dari sumber lain mana pun.”—(New York, 1871), Jil. II, hlm. 276.

Luk. 2:8-11 menunjukkan bahwa gembala-gembala berada di padang pada malam hari sewaktu Yesus dilahirkan. Buku Daily Life in the Time of Jesus menyatakan, ”Kawanan ternak . . . melewati musim dingin di dalam kandang; dan dari sini saja nyata bahwa tanggal tradisional untuk Hari Natal, yaitu pada musim dingin, tidak mungkin benar, karena Injil mengatakan bahwa gembala-gembala berada di padang.”—(New York, 1962), Henri Daniel-Rops, hlm. 228.

Natal dilarang

Pandangan Alkitab

Apa yang Seharusnya Anda Ketahui tentang Natal

JUTAAN orang seluas dunia sedang bersiap-siap menikmati musim Natal tahun 2002. Barangkali Anda termasuk di antaranya. Di pihak lain, barangkali bukan kebiasaan Anda untuk ikut dalam aspek religius perayaan yang populer ini. Apa pun halnya, kemungkinan besar Anda tidak dapat menghindari pengaruh suasana Natal. Hal itu merambah ke dalam dunia perdagangan dan hiburan, bahkan di negeri-negeri non-Kristen.

Apa yang Anda ketahui tentang Natal? Apakah perayaan hari kelahiran Kristus didukung oleh Alkitab? Apa latar belakang perayaan populer yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember ini?

Natal Dilarang

Jika Anda menyempatkan diri untuk meriset topik ini, Anda akan mendapati bahwa Natal tidak berasal dari Kekristenan sejati. Banyak pakar Alkitab dari berbagai denominasi agama mengakui hal ini. Dengan mengetahui hal ini, Anda pasti tidak heran bahwa di Inggris, pada tahun 1647, Parlemen Cromwell menetapkan Natal sebagai hari penyesalan dosa dan kemudian melarangnya dengan tegas pada tahun 1652. Parlemen sengaja mengadakan rapat pada tanggal 25 Desember setiap tahun, dari tahun 1644 sampai 1656. Menurut sejarawan Penne L. Restad, ”rohaniwan yang memberitakan Natal berisiko dipenjara. Pengurus gereja Anglikan dapat dikenai denda karena mendekorasi gereja mereka. Menurut hukum, toko-toko tetap buka pada hari Natal, seolah-olah itu adalah hari kerja biasa”. Mengapa diambil langkah seekstrem itu? Para reformis Puritan percaya bahwa gereja tidak boleh menciptakan tradisi yang tidak tercantum dalam Alkitab. Dengan giat mereka memberitakan dan membagikan publikasi yang mengecam perayaan Natal.

Pandangan Alakitab tentang kapan Yesus lahir.

 

”TANGGAL persisnya kelahiran Kristus tidak diketahui,” kata Encyclopedia of Early Christianity. Meskipun demikian, jutaan orang yang mengaku Kristen di seluruh dunia merayakan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember. Tetapi, tanggal ini tidak ada dalam Alkitab. Apakah Yesus memang lahir pada bulan Desember?

Walaupun tidak memberitahukan tanggal spesifik kelahiran Yesus, Alkitab memberikan bukti bahwa ia tidak lahir pada bulan Desember. Selain itu, dari bukti sekuler kita bisa tahu mengapa 25 Desember diterima sebagai tanggal untuk merayakan kelahirannya.

Mengapa Bukan pada Bulan Desember?

Yesus lahir di kota Betlehem di Yudea. Injil Lukas melaporkan, ”Di daerah yang sama itu juga ada gembala-gembala yang tinggal di tempat terbuka dan sedang menjalankan giliran jaga atas kawanan mereka pada waktu malam.” (Lukas 2:4-8) Ini bukan hal yang tidak lazim. ”Kawanan ternak harus menghabiskan sebagian besar waktu sepanjang tahun di udara terbuka,” kata buku Daily Life in the Time of Jesus. Tetapi, apakah para gembala akan berada di luar bersama kawanan ternak mereka pada malam yang dingin di bulan Desember? Buku itu mengatakan, ”Mereka melewatkan musim dingin dalam penaungan; dan dari sini saja jelas bahwa tanggal yang biasa untuk Natal, pada musim dingin, tidak mungkin benar, karena Injil mengatakan bahwa para gembala berada di padang.”

Kesimpulan ini meneguhkan perincian lainnya dalam catatan Injil Lukas, ”Pada masa itu sebuah ketetapan dari Kaisar Agustus dikeluarkan agar seluruh bumi yang berpenduduk didaftar; (pendaftaran pertama ini terjadi sewaktu Kuirinius menjadi gubernur Siria;) dan semua orang mengadakan perjalanan untuk mendaftarkan diri, masing-masing ke kotanya sendiri.”—Lukas 2:1-3.

Apakah Ada Kebaikan dalam Semua Agama?


 

APABILA agama dibicarakan, banyak orang berkata, ’Semua agama baik,’ atau, ’Semua agama tidak lain dari jalan yang berbeda-beda menuju Allah.’

2 Mudah dimengerti mengapa orang-orang mungkin mendapatkan suatu kebaikan dalam hampir setiap agama, sebab kebanyakan agama menyebut-nyebut tentang kasih dan mengajarkan bahwa membunuh, mencuri dan berdusta tidak dapat dibenarkan. Kelompok-kelompok agama telah mengutus misionari-misionari untuk menyelenggarakan rumah sakit dan membantu orang miskin. Dan khususnya dua abad terakhir mereka turut menterjemahkan serta menyebarkan Alkitab, sehingga memungkinkan lebih banyak orang mendapat manfaat dari Firman Allah. (2 Timotius 3:16) Namun kita wajib menanya diri: Bagaimana Yehuwa dan Yesus Kristus memandang agama-agama yang berlainan?

JALAN YANG BENAR—JALAN YANG SEMPIT

3 Orang yang menganggap semua agama baik, menilai sebagai sikap yang picik untuk percaya bahwa Allah tidak akan menerima kebanyakan orang tidak soal apa agamanya. Tetapi Yesus, yang mengetahui dan mencerminkan cara berpikir Bapanya, memiliki pandangan yang berbeda. (Yohanes 1:18; 8:28, 29) Tak seorang pun dari kita dapat menuduh Putra Allah berpandangan picik. Perhatikan apa yang ia katakan dalam Khotbah di Bukit:

Jumat, 22 November 2013

Fakta-Fakta di Balik Natal, Paskah, dan ”Halloween”

 

ALKITAB memperlihatkan bahwa Yesus berusia 33 1/2 tahun ketika ia dipakukan pada awal musim semi tahun 33 M, pada waktu Paskah Yahudi. Bila dihitung mundur, ini berarti ia dilahirkan pada awal musim gugur.

Perayaan kafir Romawi yakni Saturnalia, hari ulang tahun dari matahari yang tak tertaklukkan, diadakan kira-kira tiga bulan kemudian. Bagaimana perayaan kelahiran Kristus bisa dimundurkan ke tanggal 25 Desember, untuk secara tidak patut membuatnya bertepatan dengan perayaan kafir yaitu hari ulang tahun matahari?

Siang hari yang lebih pendek pada bulan Desember menimbulkan kepanikan yang didasarkan takhayul di antara para penyembah matahari, yang takut kalau-kalau dewa mereka akan mati. Mereka menyalakan lilin dan api unggun untuk membantu menghidupkan kembali dewa mereka yang sedang sekarat. Tampaknya ini berhasil. Setelah solstise musim dingin (musim dingin pada waktu matahari berada pada titik terjauh dari khatulistiwa) pada tanggal 21 Desember, dewa matahari tampaknya mendapatkan kembali kekuatannya seraya siang hari semakin bertambah panjang.

”Desember merupakan bulan utama dari perayaan kafir, dan 25 Des. merupakan titik puncak pesta pora musim dingin,” kata Church Christmas Tab menjelaskan. ”Beberapa orang percaya bahwa uskup Roma memilih 25 Des. sebagai tanggal kelahiran Kristus guna ’menyucikan’ perayaan kafir. Hasilnya adalah campuran aneh dari perayaan-perayaan kafir dan Kristen yang sekarang disebut oleh dunia sebagai Natal.” Artikel itu mengakui, ”Kata ’Natal’ tidak ada dalam Alkitab. Dan Alkitab tidak memberikan perintah untuk merayakan kelahiran Kristus.”

Tidak mengherankan, teolog bernama Tertullian mengeluh, ”Oleh kami, yang adalah orang-orang yang tidak kenal akan Sabat, dan perayaan bulan baru serta perayaan Yahudi lainnya, yang pernah diperkenan Allah, Saturnalia [dan perayaan kafir lainnya] sekarang begitu umum, hadiah-hadiah dibawa ke sana kemari, . . . dan olahraga serta perjamuan makan dirayakan dengan riuh.”

Kamis, 21 November 2013

Berpautlah pada Ibadat Sejati,natal.


 

Apa yang Alkitab ajarkan tentang pemujaan patung dan leluhur?

Apa pandangan orang Kristen mengenai hari raya agama?

Bagaimana caranya menjelaskan kepercayaan Anda tanpa menyinggung perasaan orang?

KATAKANLAH Anda baru saja tahu bahwa seluruh lingkungan tempat tinggal Anda telah tercemar. Seseorang diam-diam telah membuang limbah beracun di daerah itu, dan sekarang kehidupan semua orang terancam bahaya. Apa yang akan Anda lakukan? Sebisa mungkin, Anda tentu akan pindah dari sana. Tetapi, setelah itu, Anda masih dihantui pertanyaan penting, ’Apakah saya sudah terkena racun?’

2 Demikian pula keadaannya dengan agama palsu. Alkitab mengajarkan bahwa agama seperti itu sudah tercemar dengan ajaran dan cara beribadat yang najis. (2 Korintus 6:17) Itulah sebabnya mengapa begitu penting untuk keluar dari ”Babilon Besar”, imperium agama palsu sedunia. (Penyingkapan 18:2, 4) Sudahkah Anda melakukannya? Jika sudah, Anda patut dipuji. Tetapi, ada lagi yang dituntut selain memutuskan hubungan dengan agama palsu. Anda selanjutnya harus bertanya kepada diri sendiri, ’Apakah masih ada sisa-sisa agama palsu yang mencemari diri saya?’ Pertimbangkan beberapa contoh.

Senin, 18 November 2013

Pandangan alkitab,mengapa natal bukan perayaan Kristiani ?

 

’NATAL dilarang! Siapa pun yang merayakannya atau bahkan tinggal di rumah, tidak bekerja pada hari Natal akan dijatuhi hukuman!’

Hal yang tampak aneh ini sungguh-sungguh terjadi pada abad ke-17. Orang-orang puritan (salah satu anggota mazhab Gereja Protestan) melarang perayaan itu di Inggris. Apa penyebab pendirian yang demikian tegas untuk menentang Natal? Dan mengapa dewasa ini terdapat jutaan orang yang merasa bahwa Natal bukan bagi umat kristiani?

Dari Mana Sebenarnya Natal Berasal?

Anda mungkin terkejut bila mempelajari bahwa Natal tidak diajarkan oleh Kristus Yesus maupun dirayakan olehnya atau para muridnya di abad pertama. Kenyataannya, tidak ada catatan tentang perayaan Natal sampai 300 tahun setelah Kristus wafat.

Kebanyakan orang yang hidup di zaman itu menyembah matahari, karena mereka merasakan ketergantungan yang kuat pada siklus tahunannya. Berbagai upacara yang terinci menyertai ibadat kepada matahari di Eropa, Mesir, dan Persia. Tema pokok perayaan-perayaan ini adalah kembalinya terang. Matahari, karena tampak lemah selama musim dingin, dimohon untuk kembali dari ’perjalanan jauh’. Perayaan-perayaan itu meliputi pesta pora, makan-makan, dansa-dansi, mendandani rumah dengan aneka lampu dan hiasan serta saling memberi hadiah. Apakah kegiatan-kegiatan ini kelihatannya sudah umum?

Para penyembah matahari yakin bahwa bagian kayu yang tidak terbakar di antara kayu api unggun memiliki kekuatan magis, bahwa menyalakan api unggun dapat memberi kekuatan kepada dewa matahari dan menghidupkan dia kembali, bahwa rumah yang dihias dengan evergreens (jenis pohon yang terus berdaun dan tetap berwarna hijau sepanjang tahun, seperti cemara, pinus, dan lain-lain) akan mengusir roh-roh jahat, bahwa holly (rangkaian sejenis daun-daunan dengan buah berwarna merah) dipersembahkan sebagai suatu janji kembalinya matahari, dan bahwa ranting pohon mistletoe (sejenis tanaman parasit berbuah putih) dapat membawa keberuntungan apabila dikenakan dengan anggun. Kepada perayaan apakah benda-benda ini dihubungkan dewasa ini?

Apakah Memberi Hadiah Natal Masuk Akal?

 

SEBAGIAN BESAR pengeluaran Natal dilakukan karena memberi hadiah pada saat-saat demikian merupakan sesuatu yang dinanti-nantikan sepanjang tahun. Jika seseorang tidak memberi hadiah, ia telah melanggar kebiasaan yang berakar kuat. Namun, ekonom James S. Henry, yang menulis dalam The New Republic, mengritik ”memberi karena terpaksa” demikian sebagai pembunuh-sukacita dan kesia-siaan.

”Memberikan hadiah yang tidak cocok bagi penerima merupakan salah satu indikasi kesia-siaan ini,” katanya menjelaskan. ”Menurut pusat-pusat perbelanjaan di New York, setiap tahun sekitar 15 persen dari pembelian eceran secara tunai sewaktu Natal dikembalikan. Dengan memperhitungkan fakta bahwa banyak hadiah yang tidak cocok tetap disimpan . . . , bisa jadi hingga sepertiga dari pembelian tidak memenuhi keinginan para penerimanya.”

Sebenarnya, apakah masuk akal menabung sepanjang tahun untuk membeli hadiah yang belum tentu dibutuhkan atau diinginkan si penerimanya? Dan apakah masuk akal untuk berupaya mengesankan orang-orang lain dengan hadiah yang mahal?

”Salah satu aspek konsumsi pada waktu Natal yang khususnya berbahaya adalah ’memberi secara mencolok’,” demikian pernyataan Henry. ”Hadiah mewah,” katanya, ”tepatnya dirancang untuk orang-orang yang tidak membutuhkan hadiah sama sekali (’orang-orang yang sudah memiliki segala-galanya’). Kebanyakan hadiah yang mahal harganya diberikan pada hari Natal; tiga bulan terakhir dalam satu tahun, menurut sebuah angket pada pusat-pusat perbelanjaan di New York, menghasilkan lebih dari setengah penjualan berlian, arloji, dan mantel bulu sepanjang tahun.”

Kebenaran tentang Natal

 

APAKAH Anda memandang penting kebenaran rohani? Jika ya, mungkin Anda pernah mempertanyakan hal-hal ini: (1) Apakah Yesus memang lahir pada tanggal 25 Desember? (2) Siapakah ”orang-orang majus” dan apakah jumlahnya memang tiga orang? (3) ”Bintang” apa yang mengarahkan mereka kepada Yesus? (4) Apa hubungan Sinterklas dengan Yesus dan kelahirannya? (5) Bagaimana pandangan Allah tentang kebiasaan memberi hadiah atau, lebih tepatnya, tukar-menukar hadiah pada waktu Natal?

Sekarang, mari kita bahas pertanyaan-pertanyaan ini berdasarkan Alkitab dan fakta sejarah.
(1) Apakah Yesus Lahir pada Tanggal 25 Desember?

Kebiasaan: Menurut tradisi, kelahiran Yesus terjadi dan dirayakan pada 25 Desember. Ensiklopedi Indonesia menjelaskan bahwa Natal adalah pesta peringatan hari kelahiran Yesus di Betlehem.

Asal usulnya: ”Proses penetapan tanggal 25 Desember tidak berdasarkan Alkitab,” kata The Christmas Encyclopedia, ”tetapi dari perayaan kafir Romawi yang diadakan pada akhir tahun”, sekitar waktu titik balik matahari pada musim dingin di Belahan Bumi Utara. Salah satunya ialah perayaan Saturnalia, untuk menghormati Saturnus, dewa pertanian, ”dan perayaan gabungan untuk dua dewa matahari, Sol dari Roma dan Mitra dari Persia”, kata ensiklopedia yang sama. Hari lahir kedua dewa itu dirayakan pada tanggal 25 Desember, titik balik matahari pada musim dingin menurut kalender Julius.